Kamis, 09 Juni 2011

Gerakan Koperasi di Bali . . . GO INTERNATIONAL

Bulan Mei menjadi bulan yang amat bersejarah bagi gerakan Koperasi di Bali. Betapa tidak, Bali di Tahun 2011 ini diagendakan memperoleh prestasi sebagai Provinsi Penggerak Koperasi di Indonesia. Prestasi mentereng itu harus dijawab oleh para pengelola koperasi di daerah ini dengan berbenah diri, kalau tak ingin sekedar menyandang predikat, tanpa mampu mengangkat kesejahteraan anggotanya dan masyarakat Bali lebih jauh.

GO INTERNATIONAL merupakan langkah yang dilakukan sejumlah koperasi di Bali untuk menjawab predikat Provinsi Penggerak Koperasi di Indonesia. Sejumlah Pengurus Koperasi melakukan  study visit ke lembaga yang manaungi kopetasi di Singapura.

Singapore National Co-operative Federation (SNCF) semacam DEKOPIN-nya Indonesia. Gerakan "muhibah" koperasi di Bali ke negara tetangga ini dikoordinir oleh Koperasi Mitra Rakyat (Kopmira) satu-satunya Koperasi yang mempunyai Ijin Usaha Jasa Perjalanan Wisata di Bali atau bahkan di Indonesia. Kopeerasi yang terlibat dalam  study visit ke Singapura ini terdiri atas KSU. Kharisma Madani (Denpasar), Koperasi (KPN) UNUD, Koperasi sedana Luwih (Badung), Koperasi Bali Dwipa Sejahtera Provinsi Bali, Koperasi Citra Buana Raya (Gianyar), KSP Karna (Sanur, Koperasi Karya Pemulung (denpasar), Koperasi INKINDO Bali, Koperasi Dana Sari (Badung), Rombongan di Komandani oleh Kepala Dinas dan PKM Provinsi Bali, I Dewa Nyoman Patra, SH. MH.

Sekarang adalah eranya globalisasi. Sudah saatnya Gerakan Koperasi di Bali khususnya, tanggap akan situasi perekonomian yang terjadi. Karena itu go internasional merupakan pilihan untuk mampu bersaing di ra global ke depan, " kata I Wayan Sumerta, Ketua Koperasi Mitra Rakyat (Komira Wisata Tour & Travel).

Peserta study visit sangat antusias mengikuti rangkaian agenda, karena baru pertama kali dilakukan ke luar negeri. " Kami rasa, semua peserta memperoleh spirit bagaimana dapat berbuat, sehingga koperasi di Bali mampu menjadikan dirinya seperti koperasi di Singapura. Untuk mewujudkan tentu perlu kerja keras. Bagaimana kegiatan study visit ini paling tidak dapat menggugah setiap peserta, minimal punya semangat yang luar biasa untuk mengembangkan dan membesarkan koperasi masing-masing," kata Putu Sumedana Wahyu, Ketua KSU. Kharisma Madani (Denpasar).

Putu dengan Kharisma Madani-nya yang memiliki produk Beras Sehat Bali Madani berangan-angan suatu saat bisa masuk pasar internasional melalui koperasi di Singapura yakni NTUC FairPrice. Apa yang diangankan Putu mendapat dukungan dari Kadis Koperasi dan PKM Bali, Dewa Nyoman Patra.

"Sesuatu yang kita angankan itu akan menjadi kenyataan jika kita bergandengan tangan di Bali. Pokoknya study visit ke Singapura ini harus ada manfaatnya bagi gerakan koperasi di Bali. Paling tidak 3 bulan ke depan minimal MOU antar koperasi di Bali dengan Singapura. Saya akan laporkan ini kepada Bapak Gubernur," kata Dewa Nyoman Patra

Pihak koperasi (KPN) UNUD pun  melihat manfaat yang berarti dari kunjungan ini. Ketua Joperasi (KPN) UNUD, Drs. I Komang Ardana, MM, merencanakan mengirim mahasiswa UNUD untuk dapat magang di koperasi Singapura yang sudah bagaikan perusahaan kelas dunia.

"Saya melihat manfaatnya. Kalau tidak bermanfaat mana mau saya dari KPN kirim peserta paling banyak, 6 orang dari 30 orang peserta study visit," ujar Ardana.

Untuk membuat acara ini menarik, disamping Studi Visit ke Koperasi Singapura, juga tidak lupa mengunjungi tempat wisata Singapore seperti Pulau Sentosa, Merlion Park, Marina Bay, Mount Faber, Universal Studio, MRT ( Kereta Bawah Tanah) dan tidak lupa juga peserta membeli oleh-oleh di Lucky Plaza seputar Orcard Road yang cukup populer bagi warga Indonesia yang doyan shopping.

Beberapa anggota rombongan dari Bali ini menyebut, Bagaimanapun pesona tempat-tempat wisata di Bali masih lebih baik dari Singapore. Lantas kenapa Singapura dengan Luas  yang hanya 1/5 Bali begitu mempesona ? Peserta Studi Visit kompak menjawab karena Singapore Pintar Menjual Dirinya. Dalam arti  Marketingnya dasyat.  DR. Ida Bagus Panji Sedana, Dosen Pasca Sarjana Universitas Udayana yang juga ikut serta dalam rombongan menyebut marketting inilah yang perlu dikuatkan bagi pengembangan kepariwisataan di Indonesia dan juga Bali, "Termasuk Koperasinya". tandas Panji Sedana.

Dimanjakan Bantuan Pemerintah, Koperasi Indonesia Harusnya Lebih Maju

Putu Sumadana Wahyu
Tak dipungkiri banyak hal menarik yang bisa dipetik dari study visit para pelaku koperasi Bali di Singapura. Putu Sumadana Wahyu, Ketua KSU. Kharisma Madani (denpasar, mengisahkan pengamatannya selama iktu melakukan study visit ke Singapura, berikut penuturannya.
Study Visit ke Singapura yang baru saja kami lakukan bersama teman-teman memang memberi banyak hal positif sebagai pembelajaran, khususnya saya secara pribadi. Apa yang kami dapat, setidaknya membuka wawasan kami dalam memandang koperasi sebagai salah satu bentuk bisnis yang bisa dikelola secara profesional dengan didukung sarana dan prasarana yang modern.

Hal paling menarik adalah bahwa di Singapura, gerakan koperasi posisinya disejajarkan dengan swasta, Koperasi murni dipandang sebagai salah satu bentuk bisnis. Dan mereka tidak memiliki kementrian yang khusus menanganim perkoperasian. Kondisi ini memaksa para pelaku koperasi di Singapura mengelola koperasi secara profesional. Federasi yang dibentuk SNCF (Singapore National Co-opreative Federation) benar-benar mampu memposisikan diri sebagai wadah koperasi untuk bersuara kepada pemerintahnya.  Kondisi yang berbeda terjadi di tanah air. Di Indonesia pemerintah memantau dan terlibat langsung dalam pembinaan dan pertumbuhan perkoperasian di tanah air. Bahkan pemerintah memanjakan koperasi dengan menggelontor dana operasional dan berbagai bantuan juga dikucurkan untuk menggairakan soko guru perekonomian Indonesia ini. Sementara terhadap perkoperasian di Singapura kondisi ini sama sekali tidak ada.

Seharusnya kondisi koperasi di Indonesia khusunya Bali jauh lebih baik dari kondisi Singapura. Namun sayang output yang diberikan ternyata tidak maksimal. Lemanya sumber daya manusia dalam mengelola koperasi menjadi koperasi maju dan modern masih menjadi kendala. Disamping itu DEKOPIN sebagai wadah koperasi belum bisa maksimal menjalankan fungsinya.

Hal menarik lain adalah bagaimana SNCF ( di Indonesia DEKOPIN) mampu manaungi seluruh koperasi yang bergerak diberbagai sektor seperti Campus Co-operative Sector (sama dengan Koperasi Mahasiswa), Credit Co-operative Sector (sama dengan KSP), NTUC Co-operative Sector (sama dengan KSU) dan Service Co-operative Sector (sama dengan koperasi jasa). Terutama NTUC yang telah mampu merambah berbagai bidang usaha seperti usaha perawatan kesehatan anak, puramahan, pujasera, supermarket, asuransi, produk farmasi, klinik pengobatan keluarga, media cetak dan penyiaran, dan lain-lain.

Seluruh bidang usaha tersebut telah mampu memenuhi dan mensejahterakan anggota koperasi.  Hal inilah yang belum mampu diwujudkan oleh koperasi di Bali. Saya berharap semoga kunjungan belajar ini bisa membuka mata kita semua untuk saling bekerja sama membangun kesejahteraan anggota koperasi khususnya dan masyarakat Bali pada umumnya.


Sumber : TABLOID GALANG KANGIN EDISI 06 
(Dapatkan berita-berita menarik lainnya di Tabloid Galang Kangin Edisi 06)

BERITA TERKINI

ARSIP POST