Jumat, 18 Maret 2011

Faktor Internal dan Eksternal Pelaku UMKM di Daerah Bali

(oleh : Prof. DR. Ketut.Rahyuda,SE, MSIE)
1. Permasalahan Umum UMKM 

Tujuan pengembangan UMKM (usaha mikro,kecil dan menengah) baik yang dilakukan di Indonesia adalah bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat atau mengurangi tingkat kemiskinan. Melalui kebijakan pengembangan UMKM di Indonesia, termasuk di daerah Bali dirasakan kurang optimal karena terdapat dugaan bahwa ketepatan kualitas kebijakan pemerintah dengan kebutuhan UMKM di daerah, khususnya Bali adalah kurang memadai. Oleh karena itu pemerintah (pemerintah daerah dan pelaku UMKM) membutuhkan cara baru sebagai upaya meningkatkan kualitas UMKM, secara bersama-sama guna menyusun strategi kebijakan yang terintegrasi.
Inti atas kebijakan yang terintergratif adalah semua kebijakan pengembangan UMKM sebaiknya berdasarkan protret nyata para pelaku dan pasar yang dihadapi oleh UMKM. Intinya konsep kebijakan tersebut semestinya menggambarkan kegiatan ekonomi dan struktur mata pencaharian (usaha) mayoritas penduduk yang bergerak usaha UMKM. Sehingga kebijakan yang terbentuk akan menjadi pedoman yang mampu memberi solusi terhadap permasalahan UMKM secara nyata.Sampai dengan saat in (2011),sesungguhnya permasalahan UMKM adalah sangat banyak. Tapi bila diungkapkan secara spesifik maka permasalahan utama UMKM pada umumnya adalah berkaitan dengan permodalan, pasar, desain, dan teknologi. Untuk mendapatkan kebijakan dan program peningkatan UMKM yang berpijak pada pemecahan permasalahan yang mendasar maka dibutuhkan pendekatan strategis. Seperti mampu mempetakan potensi, permasalahan, peluang dan tantangan yang dihadapi UMKM. Pendekatan strategis itu biasanya dilakukan dengan analisis SWOT(strength, weakness,opportunity and ter) : potensi kekuatan (S), kelemahan(W), kesempatan(O) dan tantangan/hambatan(T). Analisis SWOT ini biasanya digunakan merancang strategi guna tujuan usaha UMKM dapat terwujud. Pada uraian berikut hanya dijabarkan hasil analisis SWOT secara umum. Dengan maksud agar suatu saat, setiap usaha maupun korporasi, sebelum menyusun strategi selalu memanalisis SWOT terlebih dahulu.

2. Analisis SWOT

Pengembangan UMKM dengan analisis SWOT adalah mermaksud untuk, menggambarkan kekuatan, kelemahan, peluang. Secara teknis Analisis SWOT terfokus terhadap faktor-faktor internal yang menjadi kekuatan dan kelemahan serta analisis terhadap faktor-faktor eksternal yang menjadi peluang dan ancaman. Kondisi organisasidibagi menjadi faktor internal dan faktor eksternal, digunakan menggambarkan potensi serta permasalahan yang dihadapi. Sedangkan setiap potensi dan permasalahan UMKM dijabarkan dalam beberapa variabel seperti berikut yaitu: Informasi Umum, Aspek Inovasi & Pemanfaatan Teknologi Informatika, Aspek Bahan Baku, Aspek Peralatan Produksi, Aspek SDM, Aspek Rancangan Ke Depan, Aspek Persiapan Mengahadapi Tantangan, Aspek Pemasaran, Aspek Pendanaan, dan aspek lainnya. Semua aspek yg telah diuraikan itumerupakan potensi dan permasalahan UMKM di daerah Bali. Agar penjelasan potensi dan permasalahan terpetakan secara sistemik maka fator-faktor yang menjadi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman pengembangan UMKM dapat diuraikan sebagai berikut:

3. Kekuatan Internal 

Output UMKM
Secara spesifik ternyata manusia Bali, mempunyai kemampuan kreativitas yang relatih tinggi dibandingkan manusia bukan Bali.Banyak sekali hasil produksi rumah tangga diciptakan oleh manusia Bali, yang ditiru dan dicuri sebagai produk manusia bukan Bali.Kekhasan, keunikan dan keunggulan produk yang dihasilkan menjadi ciri khas produksi Bali, Keunggulan yang dimaksud adalah keunggulan daya cipta dan inovasi. Sesungguhnya, bila pemerintah paham dan perhatian tentang keunggulan ini, maka pemerintah bersama pelaku dan masyarakat, akan melakukan tidakan preventif/ penjagaan kompetensi tersebut secara ketat. Terutama terhadap produk kerajinan, kesenian, tekstil, maupun makanan. Sayang pemerintah tuna rungu dalam menjaga potensi yang dimiliki oleh manusia Bali sehingga sebagian kesempatan menjadi hilang (baca; lost of opportunity income) turutama kesempatan mendapatkan penghasilan terhadap hilangnya /dicurinya potensi manusia Bali oleh manusia bukan Bali
Usaha utama perusahaan-perusahaan UMKM di daerah Bali adalah sebagai besar menjadi produsen (47%), yang kegiatannya memproduksi produk berupa kerajinan, usaha meubel, pakaian jadi, makanan dan minuman olahan. Hasil produksi pengusaha UMKM di Bali mempunyai kualitas dan keunggulan desain dibandingkan produk yang serupa di Indonesia, terutama untuk kerajinan/barang seni/cinderamata yang bahan dasarnya adalah berasal dari kayu, aneka rajutan, dan pakaian jadi. Produk-produk yang telah diuraikan diatas mengalami peningkatan omzet penjualan yang relatif besar dan telah menjangkau pasar internasional.Disamping itu produk yang dihasilkan oleh manusia Bali memiliki beberapa keunggulan dibandingkan produk sejenis yang ada di pasaran yaitu :
  • Menggunakan alat yang lebih bagus dan selalu menggunakan alat alat yang konvensional dengan mempertahankan penggunaan alat tradisional dan penggunaan bahan kain yang lebih awet
  • Penggunaan bahan baku yang terdiri atas bahan natural/murni dan digabung dengan kualitas bahan yang memadai, sehingga produk akhir kelihatan lebih fresh, segar dan menarik
  • Ketepatan waktu menjadi stándar dalam melayani pelanggan baik grosir maupun retail dalam penyelesaian barang dan pesanan.
  • Produk yang berkualitas selalu dijaga tanpa menggunakan pengawet.
  • Berdasarkan selera konsumen ternyata produk yang dihasilkan oleh produsen Lebih memuaskan dibandingkan produk lain yang serupa yang dihasilkan oleh produsen bukan dari daerah Bali 
  • Penetapan harga sangat berkompetisi dan tentu lebih murahserta proses layanan lebih cepat.
  • Desain dan kontrol warna lebih baik, sertamenjaga kualitas desain sesuai permintaan.
UMKM yang terdapat di wilayah Provinsi Bali sebagian besar telah melakukan inovasi dalam produksi, packaging, maupun proses produksi. Iniovasi yang dilakukan selalu dapat merubah dan meningkatkan nilai tambah produk. Berdasarkan peningkatan nilai tambah produksi, secara keseluruhan kualitas dan kinerja produk akan mampu merebut pasar. Sehingga adanya inovasi ini memberikan kontribusi pada peningkatan jumlah penjualan.

Permodalan
Untuk aspek permodalan, sesungguhnyapelaku UMKM di Bali adalah kurang realistis dalam penggunaan dan penetapan jumlah kredit yang diinginkan. Banyak pelaku UMKM memanfaatkan kredit yang diperoleh tidak disesuaikan dengan fungsi pengunaan dan kemampuan dalam pengembaliannya.Mereka lebih banyak menggunakan pinjaman tidak sesuai dengan fungsi kredit yang diperoleh.Banyak pelaku UMKM menggunakan kredit investasi sebagai kredit modal keja, demikian juga kredit modal kerja digunakan sebagai investasi. Sehingga salah pemanfaatan fungsi pinjaman, menimbulkan kualitas cashflows/ uang masuk-keluar menjadi kacau.Akhirnya pada pada suatu saat perusahaanmendapatkan masalah likuiditas. Likuiditas usaha menjadi kocar-kacir seperti kemampuan memenuhi kewajiban jangka pendek, baik untuk membayar cicilan dan biaya bunga bank maupun membayar kewajiban upah maupun biaya bahan baku dengan pemasok.Berdasarkan hasil pengamatan itu, maka pelaku UMKM sangat membutuhkan pemahaman tentang pengelolaan keuangan khususnya pengunaan modal.Pelaku UMKM saat ini mempunyai kesempatan yang ekspantif dalam mendapatkan modal.Mereka dapat mengambil kredit sampai dengan di atas Rp. 100 juta rupiah.Tidak jarang lembaga keuangan dan non keuangan seperti koperasi sudah mencanangkan kredit lunak sebagai investasi maupun modal kerja.Bantuan pembiayaan juga didapatkan dari bank pemerintah, bank swasta nasional, maupun lembaga keuangan lainnya. Beberapa penelitian yang terpercya memberikan gambaran lembaga keuangan yang memberikan pinjaman kepada usaha UMKM di daerah Bali sampai dengan tahun 2011 seperti gambar 1 berikut :
Sumber : survey ISI Bali,2010

Pemasaran
Sistem penjualan produk sebagian besar dilakukan secara lain-lain(43,21%), sedangkan sisanya dengan sistem kredit maupun campuran tunai dan kredit. Sistem tunai dilakukan karena terkait dengan jenis produk yang diperjual belikan. Sedangkan system penjualan tunai ketika produk yang dipasarkan merupakan produk yang digunakan konsumen akhir dengan sistem pemasaran secara langsung.Pengusaha melakukan pengembangan rancangan/desain pemasaran, guna meningkatkan penjualan produk sebagai upaya yang dilakukan oleh UMKM di Bali.Wilayah pemasaran selain lokal dan regional, juga sudah mencapai nasional maupun internasional. Para Wisatawan, baik domestik maupun mancanegara juga merupakan pasar utama dalam pemasaran produk UMKM di Bali.Pola yang digunakan untuk meningkatkan penjualan adalah seperti gambar berikut :
Gambar 2. Cara Peningkatan Penjualan Pelaku UMKM

Sumber ISI Bali, 2010

Teknologi dan Mesin
Dalam menjalankan usahanya sebagian besar pelaku UMKM (78%) telah menggunakan (memanfaatkan) kemajuan teknologi yang salah satunya adalah teknologi komputer.Teknologi ini digunakan sebagai salah satu sarana untuk melakukan inovasi produk, proses produksi, pemasaran, maupun administrasi. Diamping teknologi computer, juga sudah terdapat teknologi keras/ mesin mesin atau alat produksi yang memadai. Tidak semua alat mesin itu merupakan mesin import,Pengusaha UMKM di Provinsi Bali masih mempercayakan produk mesin lokal atau mesin tradisional dibandingkan dengan produk mesin impor.Hal ini digunakan untuk menjaga kualitas produk dan menekan biaya produksi.Kondisi mesin produksi yang akan dibeli untuk komoditas rata-rata pilihan produsen adalah mesin baru atau mesin yang berumur di bawah 5 tahun. Sebagian besar lebih memilih mesin lokal dengan teknologi sederhana dan tepat guna.

Bahan Baku
Mengandalkan bahan baku lokal dan regional. UMKM di Bali memiliki keterkaitan ke belakang (backward lingkage) yang cukup kuat dengan daerah sekitarnya, di mana ketergantungan pada wilayah sekitarnya cukup besar dalam penyediaan bahan baku.Ketersediaan bahan baku yang digunakan mudah diperoleh, walaupun tidak semua bahan baku dapat disediakan dari daerah Bali.hal ini disebabkan karena sebagian besar bahan baku dari daerah Bali sendiri sudah realtif terbatas. Bahan baku untuk kepentingan ekspor bagi usaha UMKM sudah semakin langka. Bahan baku ini disamping sebagian kecil dihasilkan di daerah Bali tapi lebih banyak berasal dari daerah luar bali seperti ; Kalimantan(kayu), Jawa (perak,tembaga) dan juga berasal dari Lombok maupun jawa timur. Kedepan diperlukan persiapan bahan baku yang lebih baik, mungkin bahan baku sintetis, seperti bahan baku yang bukan berasal dari sumber natural. Kepentingan bahan baku bagi usaha UMKM di daerah Bali adalah akan menjadi kusial bila pemerintah tidak secara serius membuat perencanaan yang memadai sesuai dengan kebutuhan UMKM. Sampai dengan saat ini sesungguhnya kelangkaan bahan baku adalah sudah terjadi di daerah Bali khususnya untuk produk home industry baik sebagai produk dengan pasar local maupun pasar internasional

Tenaga Kerja
Struktur tenaga kerja Para pengusaha UMKM di daerah Bali lebih memilih tenaga kerja yang berasal dari lokasi yang dekat dengan letak usahanya maupun warga/masyarakat sekitar.Tenaga kerja yang digunakan sebagian besar menggunakan tenaga kerja tetap dan berpendidikan SMA. Penggunaan tenaga kerja dengan tingkat pendidikan yang tidak tinggi ini disebabkan oleh jenis pekerjaan yang dikerjakan merupakan ketrampilan, bersifat turun temurun dan bakat alamiah. Mereka merupakan pekerja yang mempunyai naluri seni yang sangat tinggi, tenaga kerja ini sangat trampil dan angat kreatif.Usaha UMKM seperti pada produk kerajinan, tidak membutuhkan tenaga kerja dengan tingkat pendidikan tinggi. Sehinggauntuk kebutuhan kuafikasi tenaga kerja seperti itu, banyak penyediaan lapangan pekerjaan dan memberikan peluang kepada masyarakat sekitar tempat usaha.

4. Kelemahan Internal 

Output usaha UMKM
Sebagian besar belum mendaftarkan hak merek (paten) mereka ke Departemen Hukum dan HAM. Hal ini dapat merugikan para pengusaha pioneer jika terjadi pengambilan hak paten oleh pengusaha follower.Belum menerapkan standarisasi dalam usahanya seperti ISO. Dikarenakan sebagian produk unggulan berupa kerajinan/karya seni yang lebih banyak menggunakan ketrampilan tangan manusia dan ide kreatif yang cukup banyak, sehingga tidak ada standard dalam outputnya. Tidak adanya standarisasi ini melemahkan pengusaha dalam memasuki pasar internasional.

Permodalan
Masih adanya kendala/hambatan dalam memperoleh bantuan dari pihak perbankan, disebabkan lemahnya dalam hal persyaratan administrasi, jaminan, dan tingkat bunga yang tinggi.Kendala ini menyebabkan sebagian besar pelaku UMKM sulit berkembang dengan pesat, karena keterbatasan modal.Bantuan yang telah diterima oleh sebagian kecil pelaku UMKM, baik dalam bentuk materi maupun non materi tidak berdampak besar pada kemajuan usaha.

Pemasaran
Terdapat UMKM yang tidak melakukan rancangan/desain pemasaran, hal ini dirasakan pola pemasaran yang telah dilakukan saat ini sudah cukup bagi pengembangan usahanya.Keterbatasan dalam pengembangan rancangan/desain pemasaran ini memberikan kemungkinan untuk tidak dapat melakukan pengembangan lebih lanjut.Pemasaran dilakukan sendiri. Dengan adanya keterbatasan kemampuan, akan dapat menghambat dalam pengembangan usaha, khusunya guna meningkatkan nilai penjualan.

Teknologi dan Mesin
Minimnya pemanfaatan teknologi internet dalam desain, pemasaran, dan promosi hasil produksi. Keterbatasan pengguasaan IT, sistem yang ada kurang mendukung, dan kurang ketersediaan SDM pendukung menjadi hambatan dalam pengembangan usaha.Bagi sebagian UMKM yang menggunakan mesin, pemanfaatan mesin pada umumnya digunakan sebagai alat pendukung produksi. Tingkat pemanfaatan kapasitas dari mesin yang digunakan oleh pengusaha tidak besar. Penggunaan mesin sangat tergantung pada jenis produk yang dihasilkan, sehingga tidak semua UMKM menggunakan mesin dalam proses produksi seperti UMKM kerajinan patung/ukiran dan kerajinan lainnya yang menggunakan keterampilan tangan manusia. Penggunaan mesin dengan umur di atas 10 tahun serta memiliki kapasitas produksi dan kapasitas terpasang yang rendah menyebabkan jumlah dan kualitas produk yang dijual semakin kurang mampu menghadapi pesaing.

Bahan Baku
Sulitnya mendapatkan bahan baku dengan kualitas yang bagus. Penggunaan bahan baku yang spesifik dan unik untuk kerajinan/produk seni/handycraft tertentu dan tidak selalu terdapat di wilayah sekitar, membuat para pengusaha harus memikirkan bahan baku alternatif lainnya sebagai pengganti bahan baku utama.Adanya keterlambatan pendistribusian bahan baku. Keterlambatan bahan baku ini akan berdampak pada keterlambatan proses produksi, sehingga menyebabkan pesanan tidak tepat waktu maupun menipisnya stok barang.Adanya peningkatan harga bahan baku dan keterbatasan dalam ketersediaan bahan baku akan mempengaruhi produksi terutama saat pesanan mengalami peningkatan.

Tenaga Kerja
Sebagian besar tidak memiliki Serikat Pekerja.Sehingga pekrja mengalami kendala dalam skill atau keahlian tenaga kerja di bidangnya maupun dalam penggunaan IT.Latar belakang pendidikan pada karyawan tetap di bawah SMA juga merupakan kelemahan daya dukung sumberdaya UMKM di daerah Bali. Jumlah jam kerja yang berkurang karena sering adanya upacara keagamaan, menyebabkan pengusaha tidak bisa melakukan pemaksaan dan dengan terpaksa meliburkan pekerjanya.

5. Peluang Ekternal 

Output UMKM
Pelaku UMKM sebagian besar tidak mendapatkan penghasilan dari luar usaha (tidak melakukan usaha lain).Artinya bahwa usaha UMKM di daerah Bali, secara umum hanya terfokus dalam pengembangan usahanya.Penggunaan hasil produk digunakan langsung oleh konsumen akhir.Hal ini mempermudah dan mempercepat untuk mengetahui tingkat kepuasan konsumen.Karena pasar UMKM yang ada di daerah Bali berhadapan dengan pasr Internasional maka pengusaha sangat mempunyai kesempatanuntuk pengembangan usaha, inovasi, dan pengembangan pasar.Usaha ini dilakukan pengusaha untuk dapat mengikuti perkembangan trend dan keinginan pasar.

Permodalan
Sumber pembiayaan UMKM Bali untuk investasi mayoritas bersumber dari Bank Pemerintah.Jenis bantuan yang didapatkan pelaku UMKM Bali bervariasi tidak hanya berupa sumber pendanaan/pembiayaan dari perbankan, tetapi juga bantuan dalam bentuk lainnya seperti informasi dan pameran, pengolahan limbah, peralatan produksi, pelatihan dan perizinan usaha, dan bantuan bahan baku, baik yang berasal dari pemerintah maupun swasta. Sebagian usaha UMKM Bali pada umumnya cukup kokoh menghadapi gejolak pasar dan konjungtur ekonomi global serta persaingan terbukti dengan adanya krisis global nilai ekspor secara total tetap mengalami kenaikan.

Pemasaran
Potensi pasar yang besar (mayoritas wilayah pemasaran yang dilakukan adalah dalam satu wilayah Kabupaten/Kota dan masyarakat Bali pada umumnya) serta pasar domestik (sebagai cenderamata).Dapat dikembangkan untuk menjadi komoditi ekspor seperti ke Amerika, Jepang, Korea, Austria, Singapura, dan Hongkong.Melakukan inovasi dalam pengembangan pasar.

6. Ancaman/Tantangan Ekternal

Terdapat beberapa tantangan dan hambatan bagi usaha UMKM di daerah Bali, yaitu kurangnya dukungan kebijakan yang tepat sasaran dan fasilitas dari pemerintah, terutama dalam pendanaan. Hal ini menyebabkan ancaman bagi pelaku UMKM apabila kucuran dana atau dukungan kebijakan lainnya tidak diberikan kepada usaha UMKM yang tepat, sehingga menyebabkan ketidakmajuan usaha.Situasi persaingan usaha saat ini dan ke depannya sangat ketat dengan adanya pelaku utama sangat dominan.Trend globalisasi yang memaksa untuk berbenturan dengan produk luar atau multinasional, terutama sulit bersaingnya dengan produk–produk buatan China.Persaingan dengan wilayah lainnya yang memiliki jenis produk yang sama.Kondisi ekonomi makro yang tidak menunjang iklim usaha, seperti inflasi yangtinggi, suku bunga tinggi, dan proses pengajuan serta pencairan dana agar dipercepat dan dipermudah.Pelaku UMKM merasa tidak perlu mendaftarkan hak merek/patennya di Departemen Hukum dan HAM.Meskipun demikian para pengusaha mengakui ada perhatian yang cukup serius dari pihak pembina industri baik itu pemerintah daerah maupun Perbankan dalam bentuk kredit dan lembaga terkait lainnya yang memberikan berbagai fasilitas kemudahan dalam mengembangkan industri ini ke depan. Tetapi pola pembinaan perlulebih dicermati dalam bentuk skala prioritas pembinaan agar sasarannya menjadi lebih optimal. Secara umum, profil usaha UMKM yang ada di daerah Bali perlu memperhatikan factor internal maupun factor eksternal yang telah diuraikan diatas.Kedua factor tersebut menjadi bahan masukan untuk menyusun strategi pengembangan usaha UMKM di daerah Bali. Tulisan ini berharap agar para pengusaha Bali mampu menjabarkan strategi usaha UMKM guna bersaing menghadapi pasar local, nasional bahkan internasional. Selamat menyusun strategi !!!.

BERITA TERKINI

ARSIP POST