Sumber : Seputar Indonesia (http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/387912/).
Gempa bumi berkekuatan 9 Skala Richter yang disusul tsunami setinggi 10 meter di Jepang Jumat lalu (11/3) benar-benar mengejutkan dunia. Betapa tidak, Pantai Timur Jepang nyaris rata tersapu tsunami dahsyat.
Puluhan ribu orang tewas dan puluhan ribu lainnya hilang tersapu gelombang tsunami raksasa. Dalam kondisi yang memilukan itu, Jepang pun dihadapkan pada bencana lain: meledaknya bangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima. Namun,di balik tragedi gempa dan tsunami raksasa itu, dunia berdecak kagum menyaksikan betapa tabah dan gigihnya orang Jepang dalam menghadapi bencana.
Dalam kondisi yang amat memprihatinkan itu, mereka tetap sabar,taat aturan, tertib,dan bekerja keras untuk mengatasi persoalan besar yang dihadapinya. Masyarakat internasional yang menyaksikan bagaimana orang Jepang menghadapi gempa dan tsunami mengakui kualitas dan daya hidup orang Jepang yang luar biasa. Mereka tetap menjunjung moral, jujur dan disiplin dalam kondisi apa pun.
Tak ada berita penjarahan dan perampokan seperti yang terjadi di Aceh dan Haiti ketika masyarakat bingung menghadapi bencana; tak ada pebisnis yang bersikap “aji mumpung” dengan menaikkan harga makanan yang diperebutkan korban-korban gempa seperti terjadi di Yogyakarta; dan tak ada orang yang saling curiga karena tuduhan menyelewengkan bantuan untuk korban.
Pendek kata,sikap orang Jepang dalam menghadapi bencana, pinjam istilah Komaruddin Hidayat, sangat Islami.Padahal orang Jepang umumnya tak mengenal Islam. Bahkan orang Jepang menganggap agama Islam itu banyak aturannya dan merepotkan (Wahyu Prasetyawan, 2006).
Agama Orang Jepang
Selama ini ada anggapan bahwa agama orang Jepang adalah Shinto.Padahal Shinto sebetulnya bukan agama, tapi lebih dekat pada tradisi warisan nenek moyang. Karena itu, Shinto lebih tepat merupakan tradisi dan budaya masyarakat Jepang, bukan agama, karena dalam Shinto tidak ada aturan baku dan kitab suci seperti agama-agama formal yang dianut mayoritas penduduk dunia seperti Hindu, Buddha,Yahudi, Kristen, dan Islam.
Namun demikian, orang Jepang sendiri menganggap Shinto sebagai agama seperti halnya Islam dan Kristen. Karena Shinto lebih merupakan tradisi dan budaya lokal, orang Jepang umumnya amat luwes dan pragmatis dalam memandang agama.Orang Jepang sangat toleran, pluralis, dan mudah menerima agama apa pun asalkan tidak membuat kerusakan dan kekacauan. Namun, sikap toleran dan pluralis orang Jepang berbeda paradigmanya dengan sikap toleran dan pluralis orang-orang beragama formal.
Sebab, bagi orang Jepang agama itu tidak penting, yang penting adalah perilaku, etika, dan moral individu. Karena pandangan agama seperti itulah, orang Jepang secara individual mempunyai kejujuran, moralitas, dan integritas yang tinggi.Sikap individu seperti itu kemudian meluas sehingga menjadi sikap masyarakat dan bangsa. Mereka menjadi manusia bertanggung jawab, jujur, dan menjunjung tinggi integritas.
Sikap semacam itulah yang kini sedang dipertunjukkan orang Jepang di saat menghadapi bencana gempa dan tsunami. Lantas,apakahorangJepang yang tidak menganggap penting agama itu memercayai Tuhan? Pertanyaan ini agak sulit menjawabnya karena faktanya orang Jepang memercayai Tuhan, tapi Tuhannya amat “plural”. Artinya, orang Jepang percaya kepada Tuhan, tapi bila Tuhan itu memberinya manfaat untuk kehidupannya.
Dengan latar kepercayaan seperti itu, orang Jepang dengan mudah mengikuti ritual agama Kristen, Buddha, Hindu, bahkan Islam dengan tujuan agar Tuhan membantu kehidupannya.Bagi orang Jepang, makin banyak mempunyai Tuhan adalah makin baik karena akan lebih banyak Tuhan yang bisa diminta pertolongannya.
Di Jepang agama tidak masuk dalam catatan KTP (kartu tanda penduduk) dan tidak ada mata pelajaran agama di sekolah. Dalam sebuah sensus penduduk berdasarkan agama, tahun 1992, misalnya, jumlah penduduk Jepang tercatat 300 juta. Padahal, jumlah penduduk Jepang saat itu hanya 120 juta. Ini artinya, satu orang Jepang ternyata menganut lebih dari satu macam agama.
Rekayasa Kebudayaan
Lantas kenapa orang Jepang sangat maju dan mempunyai prinsip dan karakter yang cocok untuk kemajuan? Ternyata, hal itu berkaitan dengan rekayasa kebudayaan.Sejarah mencatat proses modernisasi Jepang tumbuh sejak zaman Restorasi Meiji (awal abad ke-19), yaitu ketika para samurai yang berpikiran maju menghendaki Jepang menjadi negara modern. Restorasi Meiji dianggap sukses karena sudah melewati masa jengoku jidai (masa perang), terutama di zaman Tokugawa (sekitar abad ke-15 hingga 17).
Setelah selesainya era Tokugawa yang penuh perang, Jepang mengalami masa damai selama 200 tahun. Dan itulah modal besar yang dimiliki Jepang untuk mendidik bangsanya. Sewaktuterjadi perangterus menerus, kaum samurai—strata tertinggi dalam masyarakat Jepang setelah kesatria, pedagang, dan petani—mempunyai banyak pekerjaan.Tapi ketika memasuki era damai selama 200 tahun,mereka tidak lagi disibukkan pekerjaan untuk mempersiapkan perang. Hebatnya, ketika tidak ada perang, mereka justru mengabdikan diri sebagai guru.
Mereka mendidik anak-anak orang kaya,terutama kelas pedagang, agar mempunyai cita-cita untuk membangun Jepang menjadi negara yang besar dan maju. Mereka mendorong anakanak orang kaya untuk menuntut ilmu seluas mungkin demi keunggulan Jepang. Itulah yang menjadi modal Jepang untuk maju.Bayangkan saja, selama 200 tahun, para samurai hanya mengajar saja. Bukan hanya itu, ketika Kaisar Meiji memerintah Jepang, sekitar awal-awal abad ke-19, orang Jepang sudah sadar bahwa pilihan untuk maju memang tidak banyak.
Melihat Eropa yang sudah maju, Jepang dihadapkan pada dua pilihan: maju atau bertahan dalam kemunduran. Kalau hendak maju, orang Jepang harus berkiblat pada Eropa dan Amerika Serikat. Itulah yang sangat disadari oleh pemimpin-pemimpin Jepang ketika itu, terutama Kaisar Meiji. Lalu Kaisar Meiji mengirim tunas-tunas muda Jepang yang cerdas untuk belajar ke Eropa dan Amerika.
Untuk memodernisasi angkatan laut, orang Jepang diharuskan belajar kepada Inggris yang ketika itu punya armada laut paling kuat di dunia.Untuk menguasai bidang teknologi, orang Jepang diharuskan belajar ke Jerman dan Amerika Serikat.Mereka menyerap ilmu dari negara-negara maju untuk kemudian diterapkan di negerinya. Hasilnya, di abad ke- 20, Jepang sudah sejajar dengan Inggris dan Jerman. Sayangnya, Jepang terlibat dalam Perang Dunia I dan II.
Jepang satu-satunya negara Asia yang saat itu teknologinya sejajar dengan negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Dalam Perang Dunia I dan II Jepang kalah.Ekonomi Jepang porak-poranda, apalagi ketika Jepang kalah dalam Perang Dunia II setelah Kota Hiroshima dan Nagasaki dibom atom Amerika.Saat itu,banyak pakar Barat berpikir bahwa Jepang tidak akan bisa bangkit karena luluh lantak.
Tapi, kenyataannya, hanya dalam waktu kurang dari 20 tahun,Jepang kembali menyejajarkan diri dengan Barat. Bahkan teknologi dan ekonominya bersaing ketat dengan negara Amerika. Kenapa semua itu terjadi? Itulah semangat samurai Jepang. Sebuah semangat untuk maju dengan cara sportif. Bekerja keras, jujur, antikorupsi, membangun integritas, dan terus memacu perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Hal yang sama kini sedang ditunjukkan bangsa Jepang untuk mengatasi bencana gempa, tsunami, dan radiasi nuklir. Lalu di mana agama? Nilainilai agama—yang salah satunya cirinya mempunyai rasa malu dan menjunjung moralitas— rupanya sudah terinternalisasi dalam sikap orang Jepang. Karena itu, memperhatikan bagaimana sikap orang Jepang dalam menghadapi bencana besar, kata Marshall Sahlins, tak cukup dilihat dari aspek rasional belaka,tapi juga harus dilihat dari manifestasi simbol-simbol kultural bangsa Jepang.●
M BAMBANG PRANOWO
Direktur Lembaga Kajian Islam dan
Perdamaian, Guru Besar Sosiologi Agama UIN Jakarta